Senin, 23 Desember 2013

Untuk renungan kita semua...

Sebelum membahas lebih lanjut, saya jelaskan bahwa tidak ada niat saya untuk menjelekkan nama baik dari PO ini, ini sekedar pengalaman yg kurang menyenangkan beberapa waktu lalu ketika saya akan pulang ke Jawa, yg notabene bukan MUDIK atau pulang dari JALAN-JALAN, kebetulan saya ada urusan kerjaan di Jakarta...
Peristiwa itu terjadi hari Jumat, 20 Desember 2013 pukul 16.30 WIB di terminal Lebak Bulus Jaksel,..
Hari itu saya ada urusan kerjaan di Sunter Jakut, karena belum tau pasti kapan akan selesai, saya tidak pesan tiket kereta pagi harinya, jadilah saya kehabisan tiket kereta untuk keberangkatan hari itu dan keesokan harinya, saya cari alternatif lain dengan melaju ke terminal Lebak Bulus dengan harapan mendapat tiket bus yg berharga miring untuk tujuan (setidaknya) Pekalongan, karena tujuan saya sebenarnya adalah Weleri, naik kopaja 20 AC Senen - Lebak Bulus via kuningan dan di"hadiah"i macet sepanjang jalan medan merdeka, sempat lihat ramainya di depan gedung KPK, dan padatnya lalu lintas Jakarta sore itu.
Sampailah saya di terminal Lebak Bulus dengan "hadangan" calo-calo tiket yg dengan "ramah"nya menanyakan tujuan kita, saya tetap santai berjalan sambil membayar retribusi, menuju loket bus yg bertujuan Pekalongan, saat hendak menanyakan tarif, datanglah seorang pria, mengenakan rompi orange, yg kata dia, dia adalah karyawan terminal Lebak Bulus sambil menunjukkan rompi orange nya bernada bicara setengah ngotot ke saya, padahal saya tidak berkata apapun ke dia.. Harga tiket PO Dedy Jaya eksekutif (katanya) dibandrol 175rb, saya geser ke PO berikutnya, PO Sinar Jaya tiket untuk hari itu sudah habis, PO Kramatjati juga habis, saya geser lagi, si Bapak berompi orange itu masih saja mengikuti saya dengan "pidato"nya yg saya tidak hiraukan sedikitpun.. Sampailah saya di loket PO Handoyo, tetapi saya belum memutuskan untuk membeli tiket, saya masih tanya dan tanya tarifnya, mengingat uang di dompet saya cuma 200rb, si Bapak rompi orange berdiri di samping saya, menawarkan bus Kartika atau apalah saya lupa, saya tidak mau karena saya baru mendengar nama PO tsb, belum familiar di telinga saya, saya bilang ke si Bapak, kalau yg untuk sekarang habis, saya pulang besok saja, dia pun berteriak ke saya dengan nada tinggi dia bilang kalau harga tiket keesokan harinya lebih mahal, naik, bla bla bla.. Saya tetap tidak hiraukan, saya ambil handphone saya, saya telpon Ibu saya, minta pendapat beliau dan si Bapak itu masih saja mengikuti saya, bahkan "menguping" pembicaraan saya dan Ibu di telpon, risih sekali rasanya.
Telpon saya tutup, saya melihat ada seorang pria berkaos putih dengan lengan digulung, tangan penuh tato, tidak begitu tinggi, mulutnya soak karena dia adu mulut dengan Bapak-Bapak yg menanyakan harga tiket, pria bertato itu berdiri persis diantara 2 loket, antara PO Handoyo dan PO sebelah kirinya (kalau saya berdiri menghadap loket). Saya masih mikir, dan saya lihat ada pria mengenakan seragam PO Handoyo, langsung saja saya menghampiri dan bertanya, apakah nanti bus nya melewati Weleri, dengan menggunakan bahasa Jawa halus, dan si Bapak menjawab lewat, tetapi, dia bilang ke saya, mau beli tiket atau ikut dia, jujur, saya tidak tau apa maksdunya, apalagi dia berdiri didampingi si Bapak yg berompi orange tadi, makin tidak nyaman saya di situ, ingin rasanya cepat pergi saja tetapi saya harus pulang hari itu juga karena saya sudah beli ayam KFC untuk keponakan saya yg sedang sakit, kalaupun terpaksa, saya tidak apa-apa pulang keesokan harinya, tetapi saya tidak menyerah untuk mendapat tiket pulang hari itu juga, demi keponakan saya... Saya bergegas ke loket PO Handoyo, beli tiket jurusan Weleri, dikenai tarif 135rb, si wanita penjual tiket menulis tiket saya tanpa bertanya nama saya siapa, asal coret dia,  saya tidak nawar, saya biarkan, pria bertato yg saya bilang tadi ngoceh tidak karuan ke saya, dibilang saya sombong lah ini lah itu lah, saya tetap diam, saya pura-pura telpon Ibu saya, biar ada alasan untuk tidak menjawab apa yg dia bilang, saya nanya bus nya yg mana ke wanita penjual tiket, si wanita asal nunjuk ke saya (saya akan mengingat wajah si wanita itu sampai kapanpun, begitu teganya dia menjerumuskan saya yg juga seorang wanita, tidak ikhlas rasanya), si pria bertato pun bilang kalau bus nya di Medan, dalam hati saya berkata, tolol benar ini orang, saya lahir dan besar di Medan, Ibu saya jg orang Batak, dikira bego apa saya ya.. Kesal sekali saya tetapi tidak bisa banyak berkata apapun selain diam demi keselamatan, si pria bertato berteriak ke saya dengan menyebut (maaf) alat kelamin pria ber kali-kali, tetap saya tidak hiraukan karena saya tau dia sedang cari masalah dengan saya.
Saya pun mencari bus nya, bertanya ke sana kemari, untung ada Bapak tukang asongan yg berbaik hati menunjukkan tetapi entah kenapa dia ngacir gitu aja, saya panggil pun dia tidak menoleh, saya balik mencari, akhirnya ketemu, pas di belakang loket tempat saya beli tiket, dan sama sekali tidak sesuai dengan arah yg ditunjukkan wanita si penjual tiket, dalam hati saya tetap tidak ikhlas lahir dan batin ke wanita tsb, saya naik ke dalam bus, tapi apa yg saya dapat? isi bus penuh, full seat, seorang pedagang asongan yg kebetulan menjajakan dagangannya di dalam bus bilang ke saya, kalau di tiket saya tidak tertera nomor kursi, astagfirullah, benar, saya tidak cek dahulu, saya pun turun, minta nomor kursi ke loket tadi, dapatlah saya nomor 21, saya pun kembali naik ke dalam bus, tetapi apa? kuris nomor 21 dan 22 sudah dibeli ibu-ibu lengkap dengan tiket bernomor kursi 21 dan 22 tsb, saya pun kecewa, saya turun lagi, saya nanya ke pak Sopir yg lagi benerin audio bus, jawabannya ketus sekali "tanya agen" dengan tidak menghiraukan saya, bahkan dia berkata kalau saya mengganggu penumpang yg mau masuk ke dalam bus karena bertanya di dalam bus. dalam kebingungan dan rasa panik, saya ketemu dengan pria yg berseragam PO Handoyo tadi, ternyata beliau kernet bus yg akan saya tumpangi, saya bilang ke dia, tolong urus tiket saya Pak, saya pulang besok jg gak apa tapi uang saya balikin, saya udh ga ada uang, dengan memohon saya bilang ke dia..Dia muter-muter in saya, saya pikir mau ke loket ternyata dia buka bagasi, saya tanya mau apa, dia bilang itu ada penumpang bagasi, saya heran saja, ketika saya menghampiri dia, dia itu lagi ngobrol dengan temannya, mana ada penumpang bagasi segala, pasti ada yg tidak beres ini pikir saya. Akhirnya saya dibawa ke loket, ketemu dengan agen yg nulis nomor kursi saya tadi (saya kejar terus dia), saya disuruh duduk, menunggu, si agen lg kroscek, sambil duduk saya masih gemetaran, teringat kata-kata pria bertato tadi, kasar sekali, seumur hidup baru itu saya dikatain sekasar itu, tapi saya mencoba hibur diri, namanya terminal, bukan keraton, hehehe (tersenyum dalam sakit hati)
Si agen memanggil anak buahnya untuk ngurus tempat duduk saya, saya pun diantar ke bus, tetapi saya tidak membiarkan anak buah si agen untuk pergi begitu saja sebelum saya dapat tempat duduk, dia bilang kalau sudah ada orang yg mengatur di dalam bus, saya tidak langsung percaya begitu saja, saya lihat ke dalam bus dulu, baru saya biarkan dia pergi, dan ternyata memang ruwet, pengaturan tempat duduk penumpang semrawut, asal, berantakan, saya bingung sendiri, akhirnya si pengatur kursi meminta saya untuk duduk di kursi depan, pas di belakang sopir, saya pun menuruti omongannya.. Dan ternyata masih ada 3 orang yg bertiket tanpa nomor kursi, sama seperti saya, mereka pun duduk di depan, di samping sopir.
Saya pun tiba dengan selamat di Weleri kurang lebih pukul 04.00 WIB, dijemput Bapak saya tepat di belakang bus yg bernomor AA 1499 AA tsb, ingin sekali rasanya saya bilang ke Bapak saya kalau saya dapat perlakuan tidak menyenangkan, tetapi mengingat si kernet bus tsb yg masih mau ngurusi saya (meskipun sudah membuat saya bingung dengan tawaran "beli tiket" atau "ikut saya"), saya simpan saja dalam hati sembari pulang ke rumah, saya sampaikan terimakasih buat pak Kernet PO Handoyo plat nomor AA 1499 AA yg masih mau ngurusi ke"tidakbecusan" tiket yg saya beli.. Semoga amal Bapak diterima, murah rezeki, lapang jalannya, aamiin..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar